Mas Handoko (owner Tjap Giling) menggiling kopi untuk diseduh.
(Foto: @hariobbie)

April 2017 lalu, Amstirdam pernah mengadakan #JelajahKopiMalang dengan berkeliling bersama peserta terdaftar ke beberapa kedai. Salah satu destinasi tujuan bersama waktu itu adalah kedai Kopi Tjap Giling. Kami memutuskan untuk kembali lagi kedai ini.

#JelajahKopiMalang kali ini kami lakukan lebih awal dari biasanya. Butuh waktu yang agak lama untuk sampai disana jika berangkat dari Amstirdam. Sekitar pukul setengah 3, kami tiba disana dan disambut langsung oleh Mas Handoko yang juga owner dari kedai Kopi Tjap Giling. 

Kami langsung menyempatkan untuk melihat-lihat sejenak lagi suasana kedai Kopi Tjap Giling yang terasa hangat dan mengingatkan kami pada suasana rumahan khas rumah kakek nenek dengan ornamen-ornamen antik yang dipajang di Kopi Tjap Giling. Oh iya, siang itu masih terasa cukup panas diluar, namun begitu masuk kedai kami merasakan hawa yang lebih sejuk, seperti kopi sejuk hehehe :)

Nama Tjap Giling terdengar cukup unik. Menurut cerita Mas Handoko, makna nama Tjap Giling yaitu berasal dari ‘Kopi Giling’. “Jadi ingin memperkenalkan ke daerah sekitar sini dan juga para pelanggan kalau kopi disini digiling dahulu baru diseduh.”

Kedai Kopi Tjap Giling mulai menyeduh sejak 20 Oktober 2016. Saat dibuka, kedai ini masih fokus menyeduh saja karena memang masih sistem manual dan belum ada mesin-mesin kopi. Tidak lama kemudian, sekitar 7 bulan berikutnya Kopi Tjap Giling mempunyai roastery sendiri, namun baru benar-benar berjalan setelah 1 tahun. Sekarang, Kopi Tjap Giling sudah mempunyai mesin kopi. Kapasitas kedai juga bertambah dengan penambahan kursi di area depan kedai.

Mas Handoko sendiri awalnya seorang pegawai di sebuah perusahaan sebelum fokus membuka dan menjalankan usaha kopinya. Untungnya karena memang hobi, Mas Handoko sudah mengumpulkan cukup banyak alat seduh kopi manual untuk mendukung niat membuka kedai.

Ketika mengunjungi Kopi Tjap Giling, tentu yang dicari adalah kopinya dan suasana rumahan yang khas ini. Kami mencoba menu minuman Lycisso yang belum pernah kami coba sebelumnya dan juga Teh Tarik hangat siang itu. Kebetulan selain menu Es Kopi Kane dan Kopi Filter, menu Lycisso adalah menu andalan juga dari kedai ini. Lycisso adalah gabungan Iced Americano dan juga leci yang terasa segar sekali di lidah. Untuk menu makanan teman mengopi, Mas Handoko merekomendasikan menu Tahu Kiwalan.

Mas Handoko lanjut menceritakan mengenai pelanggan-pelanggan yang datang ke kedai. Kedai ini sering sekali dikunjungi pelanggan-pelanggan loyalnya. Awalnya, pelanggannya berasal dari masyarakat sekitar kedai, namun seiring berjalannya waktu pelanggan dari luar daerah kedai mulai berdatangan. Untuk saat ini, kedai Kopi Tjap Giling fokus menyeduh dan juga roasting. Selain untuk kedai Kopi Tjap Giling sendiri, Mas Handoko juga sering menerima jasa roasting perorangan. 

“Kedai Kopi Tjap Giling ini milik sendiri. Jadi saya belajar roasting secara otodidak dan juga belajar dari banyak sumber.”

Mas Handoko juga bercerita kepada kami mengenai pengalaman menjalankan kedai Kopi Tjap Giling ini. Ia merasa lebih banyak rasa suka dibandingkan duka karena memang bermula dari hobi. Mas Handoko juga berharap kedepannya ada perkembangan positif dari usaha roastery dari Tjap Giling.

Tertarik mengopi dengan suasana rumahan? Mampir saja ke Kedai Tjap Giling. Mas Handoko dan kawan-kawan siap menyeduhkan mulai dari jam 1 siang setiap harinya hingga close order jam 11 malam. Kunjungi Instagram mereka di @kopi_tjapgiling juga ya :)