Kopi Luwak Liar asli yang berasal dari luwak liar (wild), Kopi Luwak Penangkaran asli yang berasal dari penangkaran (farmer/petani kopi luwak).

Berdasarkan penelusuran dan tanggapan dilapangan, jenis kopi luwak liar sangat sedikit tetapi beberapa penikmat kopi mendifinisikan aroma dan cita rasa-nya lebih enak dibandingkan dengan kopi luwak yang berasal dari penangkaran (ini masih jadi perdebatan hangat dikalangan penikmat kopi).

Untuk saat ini kopi luwak yang paling banyak diproduksi adalah kopi luwak hasil penangkaran, kita bahas satu persatu.

Kopi Luwak Liar

Kopi luwak liar merupakan biji kopi hasil feses luwak yang ditemukan di dalam hutan atau sekitar perkebunan kopi secara bebas. Kopi Luwak yang berasal dari luwak liar relatif lebih baik. Pasalnya, proses pemilihan buah kopi yang dikonsumsi luwak  berlangsung secara alami. Namun, berhubung kebutuhan akan kopi luwak liar yang terus meningkat tentu ini menjadi kendala tersendiri utnuk memenuhi permintaan pasar.

Kopi Luwak hasil dari Luwak liar yang memakan buah kopi langsung dari pepohonan kopi memberikan aroma yang lebih harum dan bermutu. Namun, kopi luwak liar ini terkadang berada di bawah tanah untuk beberapa hari hingga beberapa minggu sebelum dapat di temukan para pencari kopi Luwak Liar dan menyebabkan kopi Luwak tersebut terkena genangan hujan dan lumpur sehingga kopi Luwak Hutan lebih cenderung memiliki aroma Khas bumi atau tanah.

Kopi Luwak Hutan atau Liar yang baik adalah kopi Luwak yang dapat langsung di panen setelah Luwak menghasilkan kopi tersebut, hal tersebut jarang terjadi mengingat Luwak tidak akan memberitahu di mana mereka meletakkan feses mereka.

Kendala yang sering kali terjadi jika feses luwak tidak segera ditemukan oleh “pencari” kopi luwak liar dalam waktu yang lama (berbulan-bulan), kualitas kopi luwak cenderung menurun. Pasalnya feses tersebut beresiko terkontaminasi dari berbagai bakteri dan virus yang dapat merusak biji kopi luwak.

Pengalaman di lapangan, feses yang sudah terlalu lama bentuknya sudah tidak utuh lagi atau bahkan telah berwarna hitam dan berbau busuk. Kelemahan ini merupakan salah satu alasan sebagian orang untuk membudidayakan luwak sehingga hasil dari feses dapat dikontrol dan diolah sebelum feses tersebut rusak/busuk bahkan tercampur dengan kotoran lain didalam hutan dan terjangkit bakteri serta virus.

Kopi Luwak Penangkaran

Kopi Luwak penangkaran di mana Para penangkar memelihara luwak dan membiarkan Luwak menghasilkan kopi Luwak yang langsung dapat di ambil oleh penangkar mencuci-nya dan memproduksi-nya tanpa membiarkan aroma kopi Luwak terkena apapun.

Metode kopi luwak penangkaran merupakan solusi dari beberapa kelemahan metode kopi luwak liar. Metode kopi luwak hasil penangkaran telah diaplikasikan di berbagai perkebunan, diantara nya Dampit, Tirtoyudo, Sumbermanjing, Ampelgading.

Berbagai perkebunan tersebut berada di wilayah Malang Selatan, Jawa Timur. Sementara itu di beberapa wilayah, penangkar luwak sudah menjadi sebuah industri skala menengah seperti di Jawa Barat, Lampung Barat, dan Bali. Di kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, petani dan pebisnis kopi sudah mulai beternak musang atau luwak untuk dijadikan sebagai penghasil kopi luwak.

Luwak yang dipelihara biasanya sudah berumur dewasa ( berkisar 1,5 tahun). Jika kita memelihara dari anakan (berumur sekitar 3 bulan atau lebih), luwak dapat  berproduksi mulai 1 tahun berikutnya. Pewaratan atau pemeliharaan luwak dilakukan di dalam kandang, setiap kandang diisi oleh satu ekor luwak.

Pemeliharaan luwak diantara -ya memberikan makan secara teratur, memandikan, memberikan vaksin, membersihkan kandang, dan sesekali menyemprotkan disinfektan di setiap kandang. Selain itu, setiap hari atau interval 2-3 hari, luwak di berikan pakan buah kopi yang sudah matang (berwarna merah) pada sore hari. Jumlah buah kopi 2-3 kg per ekor.

Luwak tidak akan menghabiskan seluruh pakan yang diberikan. Luwak cenderung memilih “buah tertentu” menggunakan indera penciuman-nya yang tajam. Ke-esokan harinya, feses berupa “gumpalan” biji kopi sudah dapat di panen.