bali020516Selamat sore para Penikmat kopi Nusantara dimanapun Anda berada. Sore ini dalam coffee journey yang ke 131 saya ingin mengajak Anda untuk membuat dan menikmati kopi Arabika yang sudah terkenal dari pulau Dewata yaitu kopi arabika Bali Kintamani yang kami roast 4 hari yang lalu ditingkat kematangan medium atau city+. Roasting untuk kopi ini menggunakan profile yang cukup agresif namun citarasa dan aroma sewaktu cupping membuktikan bahwa kopi ini terasa lebih nikmat dari profile kami sebelumnya yang terasa lebih dull atau flat. Kopi ini merupakan hasil panen tahun 2015 kemarin dan ukuran bean cukup besar, sepertinya di size 7. Sore ini kopi masih tetap kami sajikan sebagai cappuccino sekalian untuk latihan membuat latte art yang bukan hanya harus terlihat bagus namun juga harus terasa manis tanpa meng-overdo susunya.

Ok langsung saja ke proses pembuantannya. Pertama saya timbang 20 gram dari biji kopi ini kemudian saya masukkan kedalam hopper dari mesin penggiling yang tingkat kehalusannya telah diset sebelum eksperiment ini dimulai. Oh ya beberapa minggu ini kami sedikit merubah cara kami menyajikan espresso. Dalam pembuatan espresso ada beberapa variables seperti ukuran gilingan, temperature air di grouphead, tingkat tamping, berat kopi bubuk, yield dan waktu. Adalah suatu syarat yang mutlak dalam mengulik sesuatu untuk hanya selalu mengganti satu variable dan yang lain dibiarkan konstant dan dalam hal ini kami hanya selalu bermain di lamanya ekstraksi untuk menghasilkan 20 gram per cup (2 cups) ristretto, dan ukuran gilingan, berat kopi bubuk, yield dan temperature group head dan pressure dibuat konstant, dan jujur hasilnya lebih konsisten dan cappuccino/latte maupun ristretto selalu drinkable walaupun kadang tidak selalu menghasilkan yang optimal. Sewaktu biji kopi digiling tercium aroma jeruk dengan aroma brown sugar yang bercampur manis sekali. Selanjutnya proses dose- tamp dan brew. Sekitar 6 detik setelah tuas dari mesin espresso dinyalakan, espresso yang berwarna kuning keemasan mulai menetes dan terlihat cukup creamy dengan tingkat intensitas yang bagus. Setelah kami peroleh 20 gram per cup, tuas saya matikan dan espresso saya sudah siap sore ini. Tercium sekali aroma manis didalam espresso/ristretto. Selanjutnya susu mulai saya stretch dan panaskan dan setelah susu dirasa pas, susu saya tuangkan kedalam cangkir yang telah terisi espresso/ ristretto sebelumnya dan cappuccino saya sudah ready sore ini.

Nah sekarang kebagian yang terpenting yakni aroma dan citarasa. Aroma manis tercium sekali dengan sedikit aroma citrus yang tersisa karena sudah tercampur susu. Setelah kopi saya minum, kopi terasa gurih sekali terasa ada sedikit sisa acidity yang tertinggal dengan sensasi rasa pulp nya jeruk dengan finish yang manis seperti caramel yang menempel agak lama didalam rongga mulut. Sudah lama sekali tidak bisa benar- benar menikmati kopi Bali Kintamani yang pas dikarenakan profile roast yang kurang pas tapi akhirnya ketemu juga. Kadang kita mengasumsikan kalau sekali mencoba kopi dan rasanya kurang enak, belum tentu bahwa kopinya yang kurang bagus, kadang kita juga mesti mengulik cara kita menyajikan kopi tersebut sehingga rasanya bisa keluar. Tetapi kalau sudah lebih dari 5 kali di ganti- ganti variable nya dan kopi masih terasa kurang enak ya berarti profile roastingnya yang salah atau bisa jadi greenbean nya yang kurang bagus.

Anyway begitu saja unek- unek saya, selamat melanjutkan aktifitas Anda kembali dan salam Amstirdam :)

Apabila tertarik untuk mencoba kopi arabika Bali Kintamani ini, green bean dapat dibeli disini dan freshly roasted bubuk maupun biji dapat dibeli disini